Oleh: Unshita Rini, S.Pd.
Disampaikan pada Lomba Mendongeng
Diselenggarakan
oleh Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Jember
#Juara 1
TOKOH DALAM CERITA
RAJA SEMUT
PANGLIMA SEMUT
SI OJAH
NANA
IBU NANA
Suatu hari di
rumah Nana...
Ibu Nana
meletakkan sekantong plastik gula pasir di meja dapur, lalu Ibu Nana pergi
meninggalkan dapur.
Sementara itu di
negeri Semut...
Dum..dum..dum..
Dum..dum..dum..
Raja Semut
keluar sambil membusungkan dada lalu berkata, “ Haiii, rakyatku, berkumpullah”.
Tidak lama
kemudian..
Ngwing...ngwing..ngwing..suara
rakyat semut keluar dari sarangnya. “ Ada apa tuanku Raja memanggil kami?”,
tanya rakyat semut.
“Coba pasang
hidung kalian,” lanjut Raja.
Semua semut
memegang hidungnya, saling menoleh penuh tanya.
“Maksudku cium,
bau apa ini? kata Raja.
Rakyat semut
mengendus-endus, seekor semut menutup hidung menoleh ke arah temannya. “Hei,
kamu kentut ya..”
“Enak saja..,”
sahut semut lainnya.
“Hai Ojah, kamu
mencium bau apa? tanya Raja.
Si Ojah kaget,
lalu menjawab terbata-bata,”Emmm...bau..bau ken...eh maksud saya bau gula
tuanku”.
Raja tersenyum
dan berkata,” Hebat..penciumanmu bagus sekali Ojah. Nah panglimaku, siapkan pasukan
menuju gunung gula pasir”.
“Siap tuanku
Raja,” jawab panglima semut.
Raja kemudian
melanjutkan pesannya,” kalian para betina dan anak-anak semut, tetaplah di
sarang kalian, persiapkan segala sesuatunya untuk menyambut pasukan semut”.
“Baik tuanku
Raja,” jawab semut-semut betina.
Begitulah Semut.
Mereka mempunyai tugas masing-masing, saling membantu, memberi salam dan
bersalaman bila bertemu.
Sementara semut
pekerja berjalan menuju gunung gula pasir di dapur ibu Nana diiringi genderang
penyemangat.
Dum durudum dum
dum..dum dum dum.
Dum durudum dum
dum..dum dum dum.
“
Stooop...prajuritku, kita sudah sampai di gunung gula pasir. Ingat pesanku,
kalian bekerja berkelompok dan tidak ada yang menghisap gula di tempat. Aku
akan berjaga-jaga di sini. Jika ada bahaya kalian cepat mundur dan
menyelamatkan diri. Kalian mengerti???” kata panglima.
“Mengerti
panglima,” jawab para prajurit.
Semut-semut
pekerja mulai beraksi, beberapa kelompok semut sudah membawa butiran gula
menuju sarangnya.
Si Ojah
menyelinap, bersembunyi sambil menghisap gula pasir, lagi...lagi...dan lagi.
Perutnya tampak membuncit, si Ojah tidak bisa bergerak karena terlalu kenyang.
Sementara itu,
pintu dapur terbuka..(kreaaaaaak). Ibu Nana terkejut melihat gula berserakan di
atas meja. “Waduuuh....semut!!!” kata ibu Nana sambil memegangi kepalanya.
Melihat ibu Nana
datang, panglima semut langsung berteriak,”semua semut pekerja...munduuuur,
selamatkan diri kalian”. Semua semut berhamburan menyelamatkan diri. Si Ojah
yang mendengar perintah panglima berusaha bangun dari tumpukan gula. Tetapi ia
tersungkur, jatuh berguling-guling. Bangun lagi...jatuh lagi.
Tiba-tiba...sroooot!!!
Si Ojah
bercampur dengan butiran gula di dalam sendok, lalu plung..!!!
Si Ojah masuk dalam
adonan teh ibu Nana. Si Ojah berusaha menepi, tetapi putaran sendok
menenggelamkannya kembali. Dunia terasa berputar-putar, lalu gelap dan gelap.
Si Ojah pingsan.
Nana masuk ke
dapur, menghampiri ibunya. “Stop bu, “ kata Nana. “Ada apa Nana, ibu belum
selesai membuat tehnya, “kata ibu.
“Lihat bu, ada
seekor semut di dalam gelas teh ibu. Kasihan, ayah dan ibunya pasti
menunggunya, “ lanjut Nana.
Kemudian Nana
mengambil semut dalam gelas dengan sendok, lalu meniupnya pelan-pelan, supaya
kering dan terbangun.
Ibu tersenyum
dan memeluk Nana. “Ibu bangga padamu, Nak. Nana sayang pada semua ciptaan Allah
dan Allah pasti juga sayang padamu,” kata ibu Nana.
Nana tersenyum
bahagia dan kembali mendekati si Ojah sambil berbisik,”semut...kembalilah ke
istanamu, sampaikan salamku pada semua semut yang ada di kerajaanmu. Salam
sayang dariku ya,”ucap Nana lirih.
Si Ojah yang
telah sadar dari pingsannya tersenyum pada Nana, lalu berjalan menuju
sarangnya. Dalam hati Ojah berjanji, aku harus mematuhi aturan. Bila makan secukupnya saja. Makan ketika lapar dan
berhenti makan sebelum kekenyangan, supaya tubuh kita tetap sehat.
Si Ojah
melanjutkan perjalanannya sambil mendendangkan sebuah lagu..
Hai kawan lihatlah lihat, di dinding semut merayap,
Panjangnya panjang sekali, seperti kereta api.
Mereka menari-nari, mereka riang sekali,
Mereka menyanyi-nyanyi, mereka saling menyayangi.
Nah, teman-teman...demikian
tadi kisah si Ojah semut kecil yang suka makan.
Pesan Ibu,
makanlah makanan yang bergizi, makan secukupnya tidak perlu sampai kekenyangan.
Sampai jumpa di
lain cerita.
Salam...