Thursday, May 21, 2020

SI OJAH Semut Kecil yang Suka Makan




Oleh: Unshita Rini, S.Pd.

Disampaikan pada Lomba Mendongeng
Diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Jember
 #Juara 1


 
TOKOH DALAM CERITA

 

    

          RAJA SEMUT                                                                      


                                                     
 

 PANGLIMA SEMUT
     






   

SI OJAH                                                                                


 
         

        

         

              NANA                                                                       




        
      




          IBU NANA                                                                           













Suatu hari di rumah Nana...
Ibu Nana meletakkan sekantong plastik gula pasir di meja dapur, lalu Ibu Nana pergi meninggalkan dapur.

Sementara itu di negeri Semut...
 
Dum..dum..dum..
Dum..dum..dum..
Raja Semut keluar sambil membusungkan dada lalu berkata, “ Haiii, rakyatku, berkumpullah”.

Tidak lama kemudian..
Ngwing...ngwing..ngwing..suara rakyat semut keluar dari sarangnya. “ Ada apa tuanku Raja memanggil kami?”, tanya rakyat semut.
“Coba pasang hidung kalian,” lanjut Raja.
Semua semut memegang hidungnya, saling menoleh penuh tanya.
“Maksudku cium, bau apa ini? kata Raja.

Rakyat semut mengendus-endus, seekor semut menutup hidung menoleh ke arah temannya. “Hei, kamu kentut ya..”
“Enak saja..,” sahut semut lainnya.
“Hai Ojah, kamu mencium bau apa? tanya Raja.
Si Ojah kaget, lalu menjawab terbata-bata,”Emmm...bau..bau ken...eh maksud saya bau gula tuanku”.



Raja tersenyum dan berkata,” Hebat..penciumanmu bagus sekali Ojah. Nah panglimaku, siapkan pasukan menuju gunung gula pasir”.
“Siap tuanku Raja,” jawab panglima semut.
Raja kemudian melanjutkan pesannya,” kalian para betina dan anak-anak semut, tetaplah di sarang kalian, persiapkan segala sesuatunya untuk menyambut pasukan semut”.
“Baik tuanku Raja,” jawab semut-semut betina.

Begitulah Semut. Mereka mempunyai tugas masing-masing, saling membantu, memberi salam dan bersalaman bila bertemu.
Sementara semut pekerja berjalan menuju gunung gula pasir di dapur ibu Nana diiringi genderang penyemangat.

Dum durudum dum dum..dum dum dum.
Dum durudum dum dum..dum dum dum.
“ Stooop...prajuritku, kita sudah sampai di gunung gula pasir. Ingat pesanku, kalian bekerja berkelompok dan tidak ada yang menghisap gula di tempat. Aku akan berjaga-jaga di sini. Jika ada bahaya kalian cepat mundur dan menyelamatkan diri. Kalian mengerti???” kata panglima.
“Mengerti panglima,” jawab para prajurit.

Semut-semut pekerja mulai beraksi, beberapa kelompok semut sudah membawa butiran gula menuju sarangnya.
Si Ojah menyelinap, bersembunyi sambil menghisap gula pasir, lagi...lagi...dan lagi. Perutnya tampak membuncit, si Ojah tidak bisa bergerak karena terlalu kenyang.

Sementara itu, pintu dapur terbuka..(kreaaaaaak). Ibu Nana terkejut melihat gula berserakan di atas meja. “Waduuuh....semut!!!” kata ibu Nana sambil memegangi kepalanya.

Melihat ibu Nana datang, panglima semut langsung berteriak,”semua semut pekerja...munduuuur, selamatkan diri kalian”. Semua semut berhamburan menyelamatkan diri. Si Ojah yang mendengar perintah panglima berusaha bangun dari tumpukan gula. Tetapi ia tersungkur, jatuh berguling-guling. Bangun lagi...jatuh lagi.


Tiba-tiba...sroooot!!!
Si Ojah bercampur dengan butiran gula di dalam sendok, lalu plung..!!!
Si Ojah masuk dalam adonan teh ibu Nana. Si Ojah berusaha menepi, tetapi putaran sendok menenggelamkannya kembali. Dunia terasa berputar-putar, lalu gelap dan gelap. Si Ojah pingsan.

Nana masuk ke dapur, menghampiri ibunya. “Stop bu, “ kata Nana. “Ada apa Nana, ibu belum selesai membuat tehnya, “kata ibu.
“Lihat bu, ada seekor semut di dalam gelas teh ibu. Kasihan, ayah dan ibunya pasti menunggunya, “ lanjut Nana.
Kemudian Nana mengambil semut dalam gelas dengan sendok, lalu meniupnya pelan-pelan, supaya kering dan terbangun.

Ibu tersenyum dan memeluk Nana. “Ibu bangga padamu, Nak. Nana sayang pada semua ciptaan Allah dan Allah pasti juga sayang padamu,” kata ibu Nana.
Nana tersenyum bahagia dan kembali mendekati si Ojah sambil berbisik,”semut...kembalilah ke istanamu, sampaikan salamku pada semua semut yang ada di kerajaanmu. Salam sayang dariku ya,”ucap Nana lirih.

Si Ojah yang telah sadar dari pingsannya tersenyum pada Nana, lalu berjalan menuju sarangnya. Dalam hati Ojah berjanji, aku harus mematuhi aturan. Bila  makan secukupnya saja. Makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kekenyangan, supaya tubuh kita tetap sehat.
Si Ojah melanjutkan perjalanannya sambil mendendangkan sebuah lagu..

Hai kawan lihatlah lihat, di dinding semut merayap,
Panjangnya panjang sekali, seperti kereta api.
Mereka menari-nari, mereka riang sekali,
Mereka menyanyi-nyanyi, mereka saling menyayangi.

Nah, teman-teman...demikian tadi kisah si Ojah semut kecil yang suka makan.
Pesan Ibu, makanlah makanan yang bergizi, makan secukupnya tidak perlu sampai kekenyangan.
Sampai jumpa di lain cerita.
Salam...

0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design