Tuesday, May 5, 2020

MELEJITKAN POTENSI DIMASA PANDEMI



 5 Mei 2020


Wajah Pendidikan Kita
“Pendidikan bukanlah mengisi wadah, namun menyalakan api”. Demikian pengantar Anies Baswedan yang kala itu sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam sambutannya pada buku Sekolah Cinta nya bapak Edi Sutarto.
Ungkapan di atas menggambarkan bahwa tugas utama pendidik bukan mengisi atau menjejali anak dengan pengetahuan-pengetahuan, tetapi bagaimana guru dapat membangkitkan hasrat, menstimulan keinginan untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat.
Saat ini di Indonesia mulai ada pergeseran mindset tentang pembelajaran yang dilakukan di sekolah, walau di beberapa sekolah masih “keukeuh” dengan pemahaman lama. Perubahan mindset itu salah satunya adalah pembelajaran yang dilakukan berpusat pada anak, tidak lagi berpusat pada guru. Guru menfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan belajar anak, memberi ruang untuk mengeksploitasi potensi yang dimiliki, dan menggunakan benda-benda di lingkungan sebagai sumber belajarnya.
Tentunya letak geografis juga sangat mempengaruhi style setiap guru ketika memfasilati pembelajaran di sekolah. Pertama, IT minded. Yang ada di perkotaan tentunya fasilitas yang berkaitan dengan teknologi, tidak menjadi masalah berarti, sehingga guru lebih dominan menfasilitasinya menggunakan IT. Kedua, paper minded. Guru yang tidak mau repot, sehingga masih saja bergantung pada lembar kerja siswa yang notabene tidak lepas dari kertas dan alat tulis. Dan dapat dipastikan pembelajaran yang diberikan tidak berkesan apalagi bermakna. Ketiga, natural minded. Berbeda dengan perkotaan, daerah dataran tinggi atau yang berada di pesisir pantai, alat dan bahan dari lingkungan sudah bisa dipastikan sangat melimpah ketersediaannya, alam menjadi sumber belajar utama, tetapi fasilitas yang mendukung IT, seperti jaringan dan keterbatasan dalam jumlah kepemilikan menjadi masalah tersendiri.  Keempat, loose part minded. Menggabungkan alam sebagai sumber belajar dan teknologi untuk melejitkan potensi, bakat dan minat anak. Begitulah sekilas tentang pendidikan di negara kita.



Ketika Ujian Datang
Saat ini, Indonesia sedang menjalani masa pandemi covid-19, tak ada satu orangpun yang tahu. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Tiba-tiba diumumkan bahwa Indonesia termasuk negara terdampak, tiba-tiba ada pelarangan bepergian, sampai pada work from home dan stay at home. Itu artinya semua kegiatan dilakukan dari rumah. Demikian pula kegiatan main dengan anak-anak di sekolah.        
Kegiatan pembelajaran, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan di rumah. Orang tua mendadak menjadi guru bagi anak-anaknya. Para guru mulai berjibaku membuat tutorial untuk disampaikan kepada anak-anak melalui grup-grup whatsapp dan aplikasi lainnya yang tersedia di playstore.
Hari-hari di pekan pertama dan kedua, keluhan membanjiri ponsel para guru. Mulai dari keluhan anaknya tidak nurut, tidak paham, dan berpuluh tidak lainnya hingga berujung pada naik tensi darah orang tua. Tak sedikit orang tua yang menyarankan untuk segera masuk karena mereka kesulitan mendampingi anak-anak belajar di rumah.
            Para guru tak kalah hebohnya. Bagaimana meramu kegiatan supaya bisa disampaikan secara online, terlebih untuk anak-anak usia dini, yang pembelajaran dilakukan secara bermain. Bagaimana mengantisipasi kendala kuota internet dan ram pada masing-masing ponsel guru yang tidak memadai karena harus menerima kiriman video dan foto kegiatan anak-anak. Di sisi lain harus mencarikan solusi bagi orang tua murid yang tidak mempunyai telepon genggam, apalagi android. Sementara guru juga harus membuat laporan perkembangan anak-anak secara berkala.

Belajar Tak Mengenal Ruang Dan Waktu
Menaklukan diri sendiri adalah kemenangan paling akbar, begitu kata Plato.
Begitu banyak masalah yang tiba-tiba datang menyertai dan membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin. Mulai dari meramu kegiatan secara online, sementara guru-guru tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Mengatasi kapasitas ram yang pas-pasan dan tehnis menyampaikan kegiatan bagi orang tua yang terkendala dengan kepemilikan telepon genggam. Guru-guru mulai frustasi, belum menemukan solusi yang tepat untuk masalah-masalah yang terjadi.
Berbekal kata-kata Plato itu, saya sebagai pimpinan memberikan motivasi. Bersama para guru mencoba mengurai satu persatu permasalahan yang ada. Kemudian masalah mengerucut pada masalah pertama yaitu bagaimana cara meramu kegiatan pembelajaran kepada anak-anak supaya tetap menarik dan berkesan walaupun disampaikan secara online.
Diawali dengan menuliskan daftar kegiatan yang akan diberikan, sebagai berikut:
1.     Membacakan buku cerita Seri Binatang, 9 buku (video)
2.     Membacakan buku cerita Seri Muhammad Teladanku, 5 buku (video)
3.     Percobaan membandingkan kekuatan sabun dan hand sanitizer sebagai bahan cuci tangan (video)
4.     Percobaan terjadinya Pelangi
5.     Tutorial pentingnya cuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir dengan 6 langkah (video)
6.     Tutorial pembuatan Ecobrick (video)
7.     Tutorial membuat hand sanitizer sendiri (video)
8.     Membuat miniatur covid-19 dari bahan di sekitar rumah (video)
9.     Membuat kartu huruf dari bahan bekas (video)
10.  Membuat kartu lebaran bentuk pop-up (video)
11.  Kuis terjadinya Pelangi (google form)
12.  Observasi Hafalan (google form)
13.  Observasi Perbuatan Baik Anak (google form)
14.  Observasi Kegiatan Ramadhan (google form)

 
membuat miniatur covid-19 
Kemudian disepakati kegiatan berupa membacakan buku cerita dan tutorial percobaan, menggunakan video dengan durasi pendek. Untuk kuis bergambar, pelaporan orang tua murid berupa hafalan doa, kegiatan ramadhan dan pengamatan perbuatan baik, menggunakan google form.
Masalah semakin mengerucut. Karena guru-guru belum bisa membuat google form, apalagi kuis dalam google form. Maka solusinya adalah tutor teman sebaya. Salah satu guru yang bisa, membantu guru yang lainnya. Sehingga semua dapat membuat google form dan disesuaikan dengan peruntukannya. Ada guru yang spesifikasinya membuat kuis berupa gambar-gambar dalam google form dan ada yang spesifikasinya pada evaluasi dan pengamatan.
Guru-guru kini telah terbiasa dan menikmati kegiatan pembelajaran jarak jauh ini. Kemampuan membacakan cerita semakin terasah, bisa menggunakan tool-tool baru yang selama ini diabaikan, demikian pula dengan kemampuan pembuatan kegiatan pembelajaran menjadi lebih interaktif.
Suka dan duka yang terjadi layaknya seperti dua sisi mata uang saja. Saya jadi teringat ayat dalam surah 94:6 yang artinya : Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sungguh makhluk Allah yang satu ini begitu banyak memberikan pelajaran bagi kita. Kita banyak mendapat hikmah dan pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam kondisi krisis.
Sebagaimana pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini, Nadiem Anwar Makarim saat peringatan hari pendidikan nasional, 2 Mei 2020, bahwa untuk pertama kalinya guru melakukan kegiatan pembelajaran online dan aplikasi lain yang selama ini kita abaikan. Bahwa pembelajaran bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Orang tua pertama kalinya menyadari betapa sulitnya tugas guru. Betapa sulitnya untuk bisa mengajar anak secara efektif dan menimbulkan empati kepada para guru.
Guru, siswa dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan bukan hanya bisa dilakukan di sekolah. Pendidikan perlu adanya sinergi antara orang tua, murid dan guru itu sendiri.
Pandemi ini juga mengingatkan kepada kita, betapa pentingnya kesehatan, kebersihan, dan norma-norma kemanusiaan. Pentingnya empati dan solidaritas, suatu pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya dilakukan saat krisis tetapi pada saat krisis ini sudah berlalu.
Saatnya kita sebagai guru berinovasi, bereksperimen dan mendengarkan hati nurani. Mari belajar dari covid-19 agar menjadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.
membuat hand sanitizer

membuat ecobrick

2 comments:

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design