Friday, May 8, 2020

MENGASAH MUTIARA TERPENDAM, Gerakan 100 Hari Kerja



6 Mei 2020 



Stadium Tiga
Berdasarkan menejemen berbasis sekolah (school-based management) pembuatan perencanaan sampai evaluasi program semestinya melibatkan komponen yang ada di sekolah. Dengan melibatkan warga sekolah diharapkan munculnya sinergi yang dapat menciptakan tim kerja yang kompak sehingga secara cermat keberhasilan dan kelemahan program yang telah dibuat terdeteksi dengan baik.
Sayangnya, jarang sekali sekolah yang melibatkan warganya dalam membuat program sampai pada evaluasi. Hal ini mengakibatkan tidak sampainya program dan langkah-langkah yang dilakukan oleh pimpinan sekolah pada sasaran.
Oleh karenanya, mendengar kabar bahwa sekolah ini diambang kejatuhan, sungguh membuat hati penulis tersayat. Bagaimana tidak, sekolah yang berdiri sejak 2011 ini, yang menurut laporan kepada yayasan baik-baik saja, ternyata keropos di dalamnya. Guru tidak bekerja sesuai tupoksinya dan beberapa tata tertib yang diabaikan oleh guru dan pengelola. Maka tak berlebihan jika penulis menyebut sekolah ini , ibarat orang sakit, berada pada tahap stadium tiga.

Meninggalkan Zona Nyaman
Setelah beberapa kali melakukan  musyawarah yang cukup alot  dengan yayasan, akhirnya yayasan memutuskan memanggil penulis pulang untuk mengatasi masalah ini. Perasaan berkecamuk seketika, antara ya dan tidak. Ya, karena sangat disayangkan sekolah yang sebenarnya berpotensi ini terpaksa kolaps tanpa pertolongan apapun. Dan tidak, karena penulis harus meninggalkan zona nyaman di sekolah tempat mengabdi penulis selama 23 tahun. Sekolah yang telah mengajarkan penulis banyak hal, memberikan banyak kesempatan untuk berkreasi dan mengembangkan potensi yang penulis miliki, sungguh bukanlah hal mudah. Jangankan untuk meninggalkan, mengucapkan kata berpisah saja, lidah ini terasa kelu.
Tetapi keputusan sepenuhnya di tangan penulis dan harus dilakukan sesegera mungkin. Akhirnya penulis memutuskan untuk meninggalkan sekolah lama di akhir tahun pelajaran 2017/2018. Ya, meninggalkan zona nyaman.

Mencari Sumber Penyakit
Bulan pertama penulis mulai bertugas di sini, tak banyak yang bisa dilakukan. Hanya  melihat bagaimana guru-guru belajar dan bermain bersama anak-anak, melihat administrasi kelas dan administrasi kantor, melihat kerja bendahara, melihat ruang kelas, toilet, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang komputer, ruang administrasi, struktur komite dan lingkungan sekolah. Semua ada, tetapi nyaris tak punya ruh.
Mempelajari ritme dari hari ke hari, akhirnya penulis menemukan sumber masalah. Pertama, anak-anak tidak terfasilitasi dengan baik kegiatan mainnya, sehingga tidak dapat mengeksploitasi potensi yang dimilikinya dengan maksimal.
Kedua, kurangnya tanggungjawab guru yang mengakibatkan sanse of belonging-nya terhadap sekolah juga kurang. Guru hanya sekedar menyelesaikan tugas tanpa ada kebermaknaan yang membekas, baik kepada guru itu sendiri maupun pada anak-anak. Kegiatan masih berorientasi pada kertas dan alat tulis, tanpa mencoba menggunakan alat dan bahan yang ada di lingkungan sekolah, yang jika digunakan sebenarnya akan lebih berkesan bagi anak dan tidak membosankan tentunya.
Ketiga, Komite Sekolah yang adapun keberadaannya belum bisa dirasakan. Belum  terlihat peranannya di masyarakat, termasuk di sekolah.

Menemukan Mutiara Terpendam
Setelah menemukan permasalahan yang ada, penulis mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu potensi yang dimiliki oleh warga sekolah, baik dari murid, guru maupun komite. Potensi-potensi itu penulis kelompokkan menjadi 3.
1.  Murid.
Melihat jumlah murid yang saat itu kisaran 20 anak, di rentang usia 6 – 6,5 tahun, yang secara psikologis berada pada tahap usia siap memasuki jenjang SD. Artinya mereka siap secara mental, berani dan bertanggung jawab. Mereka menyukai tantangan dan senang berkompetisi. Ada yang pandai menghafal surah pendek (tahfidz Qur’an), ada yang cepat dalam menyimak lagu , ada yang telaten dan kreatif dan ada yang kekuatan motorik kasarnya luar biasa.
2.  Guru.
Guru-guru yang ada telah memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai sebagai guru, yaitu sarjana pendidikan, yang mempunyai dasar tentang 4 kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Masing-masing memiliki passion tetapi malu-malu untuk menyadarinya. Beberapa pandai dalam bercerita, ada yang pandai IT, ada yang kreatif membuat peraga dari bahan-bahan bekas.
3.  Komite.
Orang tua murid di KB-TK Puspa Melati sangat heterogen, baik profesi, pendidikan serta kemampuan ekonominya. Hal ini sebenarnya merupakan aset bagi sekolah apabila orang tua tersebut kita libatkan dalam setiap kegiatan di sekolah dalam wadah Komite Sekolah. Di KB-TK Puspa Melati, setiap awal tahun ajaran dibentuklah kepengurusan Komite. Tujuannya agar Komite Sekolah menjadi wadah sharing bersama antara sekolah dengan orang tua, sehingga keberadaannya dapat mendukung kegiatan sekolah, memberi dorongan dan masukan atas berbagai masalah yang dihadapi sekolah dalam upaya peningkatan pelayanan terhadap anak didik.


Mengasah Mutiara yang Terpendam
Sebagaimana masalah yang saya temukan sebelumnya, sesegera mungkin solusi yang tepat harus didapatkan. Solusi itu adalah:
1.  Murid
Sekolah menfasilitasi potensi yang berhasil diidentifikasi dengan memberikan tambahan waktu di akhir kegiatan. Ada yang frekuensinya setiap hari untuk tahfidzul Qur’an, ada juga yang beberapa kali dalam sepekan seperti melukis, menyanyi dan ketangkasan. Karena sangat senang, tak jarang anak-anak meminta di luar jadwal yang telah ditentukan.
2.  Guru
2.1 Supervisi
Sebagai kepala sekolah, penulis harus melakukan supervisi ini sebagai wujud tanggung jawab kepada guru, untuk mengamati dan memotivasi guru atas apa yang telah dilakukan dan untuk perbaikan yang akan dilakukan selanjutnya. Supervisi dilakukan terjadwal bagi setiap guru dengan frekuensi yang sama setiap 3 bulan sekali dan materi supervisi yang telah dirancang sesuai dengan 4 kompetensi guru, yaitu paedagogi, profesional, kepribadian dan sosialnya.
2.2  Evaluasi
Setiap akhir pekan, di hari Sabtu, khusus digunakan untuk pembinaan. Semua  guru dan staf bersama kepala sekolah, berkumpul untuk melakukan tadarus dan evaluasi selama 5 hari kegiatan. Bahan evaluasi tidak lepas dari hasil supervisi yang telah dilakukan, terkait 4 kompetensi yang harus dimiliki guru. Mulai dari bagaimana membuat kegiatan main yang menyenangkan dan berpusat pada anak, pencatatan perkembangan anak, mengatasi anak-anak yang memerlukan perhatian khusus dan memberikan motivasi kepada guru. Pada masa-masa tertentu, pembinaan dilakukan bersama komite sekolah, yang dilakukan dengan anjangsana.
3.  Komite Sekolah
Anggota komite yang semua terdiri dari ibu-ibu ini, juga mempunyai passion yang berbeda. Ada yang mempunya keahlian memasak, bertanggung jawab untuk menu makan sehat anak-anak setiap bulannya. Ada  yang pandai menjahit, membantu ketersediaan keperluan anak-anak seperti celemek, baju adat dan baju profesi. Ada lagi yang telaten bercocok tanam, mereka bertanggung jawab terhadap tanaman yang dibudidayakan menggunakan hidroponik, yang hasil sayurannya digunakan sebagai menu makan sehat. Dan yang terakhir adalah keahlian dalam marketing. Bidang marketing bertanggung jawab atas bazar makanan tradisional tanpa bahan pengawet dan memasarkan hasil sayuran hidroponik yang dilakukan setiap hari Jumat, sedangkan persewaan pakaian adat dan profesi dilakukan pada momen tertentu.

Mutiara-mutiara itu mulai memancarkan sinarnya
Memasuki bulan ketiga, penulis mulai melihat perubahan. Perubahan yang terjadi pada anak-anak, guru dan komite tentunya.
Anak-anak menunjukkan kematangan secara mental maupun psikologisnya. Dalam ajang kompetisi juga dilakukan dengan senang hati, tanpa ada beban harus menang atau bagaimana jika kalah. Karena anak-anak selalu dibekali bahwa mereka semuanya anak-anak hebat, dan mendapatkan piala itu bonus. Kata-kata itulah yang ternyata mampu melejitkan potensi mereka. Kejuaraan demi kejuaraan diraih silih berganti. Mulai dari Juara 1 lomba tahfidz tingkat kabupaten, dan finalis lomba tahfidz di tingkat provinsi Jawa Timur. Juara  3 melukis, juara 3 ketangkasan egrang bathok putra dan putri, juara 2 ketangkasan memindah dingklik putra dan putri dan menyanyi di harapan 3.
Untuk guru tampak pada meningkatnya kinerja guru yang perlahan tapi pasti, grafiknya bergerak naik. Mereka mulai mengenali passion-nya masing-masing. Berani mengaktualisasikan diri baik di hadapan anak-anak maupun orang tua murid. Bahkan yang lain berusaha untuk mengembangkan kemampuan di bidang lainnya, sehingga tampak mempunyai kemampuan yang sama. Mulai tumbuh tanggung jawabnya sebagai guru, mulai dari pembuatan perencanaan sampai pada evaluasi tanpa harus diperintah, pengawasan itu rupanya sudah melekat pada diri masing-masing guru.
Demikian pula dengan komite. Kegiatan yang dilakukan secara terjadwal dan sungguh-sungguh. Mereka terlibat langsung pada kegiatan-kegiatan keluar sekolah dan kepanitiaan lainnya. Secara tidak langsung mereka juga mengiklankan sekolah dengan mengupload berbagai kegiatan di media sosial masing-masing.

Tingginya Animo Masyarakat
Sinergi yang mulai terjalin dengan baik antara pihak sekolah, orang tua dan murid, menjadi kekuatan tersendiri untuk selalu bergerak maju. Seakan berlomba untuk bisa memberikan yang terbaik bagi sekolah.
Sebagai puncaknya, di akhir tahun pertama 2018/2019, sekolah mengadakan pentas seni dan pisah asuh untuk kelompok B. Persiapan yang dilakukan dengan seksama dan gotong royong oleh komite sebagai panitia, kesiapan anak-anak untuk mengisi acara oleh guru,  berujung pada pelaksanaan yang mendapatkan apresiasi luar biasa oleh para undangan.
Sebagai kepala TK, penulis berkesempatan menyampaikan laporan perjalanan selama setahun, bahwa untuk tahun pelajaran 2019/2020, untuk Taman Kanak-Kanak telah melebihi kuota, sehingga terpaksa pendaftaran ditutup. Hal ini memang terlalu dini untuk bisa dikatakan sebagai tingginya animo masyarakat. Tetapi ini menjadi hal yang sangat positif bagi sekolah untuk terus berbenah diri. Adapun prestasi anak-anak di tahun 2018/2029 adalah:
1.    Finalis Tahfidz tingkat Provinsi Jawa Timur
2.    Juara 1 Tahfidz tingkat Kabupaten Jember
3.    Juara 2 Ketangkasan Egrang Bathok Putra tingkat Kecamatan Kaliwates
4.    Juara 2 Ketangkasan Egrang Bathok Putri tingkat Kecamatan Kaliwates
5.    Juara 3 Ketangkasan Memindah Dingklik Putra tingkat Kecamatan Kaliwates
6.    Juara 3 Ketangkasan Memindah Dingklik Putra tingkat Kecamatan Kaliwates
7.    Juara 3 Melukis tingkat Kecamatan Kaliwates
8.    Harapan 3 Menyanyikan Lagu Islami tingkat Kecamatan Kaliwates

Sekolah juga telah memproduksi sendiri sayuran sehat non pestisida melalui hidroponik. Sayuran ini menjadi pendukung utama dalam menu makan sehat anak-anak. Untuk mensiasati sulit makan sayur bagi anak-anak, komite  mengolah sayuran menjadi nugget sayur dan ice cream sayur, selain ada menu dalam bentuk sayuran.
Menutup tulisan ini penulis juga menyampaikan, bahwa prestasi anak-anak di tahun 2019/2020 tak kalah luar biasanya. Seperti beberapa kali juara 1 Tahfidz untuk kategori KB dan beberapa kali juara 2 dan 3 pada lomba mewarnai.
Selanjutnya program pembuatan buku anak-anak di tahun pelajaran 2019/2020, mendapat dukungan luar biasa pula dari orang tua murid. Alhamdulillah, di tengah pandemi covid-19 ini akhirnya buku tersebut terwujud dan di launching pada 2 Mei 2020 lalu dengan judul Semua Punya Cerita, karya ananda KB-TK Puspa Melati Jember.

Mari terus bergerak dan menginspirasi.

0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design