6 Mei 2020
Stadium Tiga
Berdasarkan
menejemen berbasis sekolah (school-based
management) pembuatan perencanaan sampai evaluasi program semestinya
melibatkan komponen yang ada di sekolah. Dengan melibatkan warga sekolah
diharapkan munculnya sinergi yang dapat menciptakan tim kerja yang kompak sehingga secara cermat keberhasilan dan kelemahan program yang
telah dibuat terdeteksi dengan baik.
Sayangnya, jarang
sekali sekolah yang melibatkan warganya dalam membuat program sampai pada evaluasi.
Hal ini mengakibatkan tidak sampainya program dan langkah-langkah yang
dilakukan oleh pimpinan sekolah pada sasaran.
Oleh
karenanya, mendengar kabar bahwa
sekolah ini diambang kejatuhan, sungguh membuat hati penulis tersayat.
Bagaimana tidak, sekolah yang berdiri sejak 2011 ini, yang menurut laporan
kepada yayasan baik-baik saja, ternyata keropos di dalamnya. Guru tidak bekerja
sesuai tupoksinya dan beberapa tata tertib yang diabaikan oleh guru dan
pengelola. Maka tak berlebihan jika penulis menyebut sekolah ini , ibarat orang
sakit, berada pada tahap stadium tiga.
Meninggalkan Zona
Nyaman
Setelah beberapa kali melakukan musyawarah yang cukup alot dengan yayasan, akhirnya yayasan memutuskan
memanggil penulis pulang untuk mengatasi masalah ini. Perasaan berkecamuk
seketika, antara ya dan tidak. Ya, karena sangat disayangkan sekolah yang
sebenarnya berpotensi ini terpaksa kolaps
tanpa pertolongan apapun. Dan tidak, karena penulis harus meninggalkan zona
nyaman di sekolah tempat mengabdi penulis selama 23 tahun. Sekolah yang telah
mengajarkan penulis banyak hal, memberikan banyak kesempatan untuk berkreasi
dan mengembangkan potensi yang penulis miliki, sungguh bukanlah hal mudah.
Jangankan untuk meninggalkan, mengucapkan kata berpisah saja, lidah ini terasa
kelu.
Tetapi keputusan sepenuhnya di tangan penulis
dan harus dilakukan sesegera mungkin. Akhirnya penulis memutuskan untuk
meninggalkan sekolah lama di akhir tahun pelajaran 2017/2018. Ya, meninggalkan
zona nyaman.
Mencari Sumber
Penyakit
Bulan pertama penulis mulai bertugas di sini,
tak banyak yang bisa dilakukan. Hanya melihat bagaimana guru-guru belajar dan
bermain bersama anak-anak, melihat administrasi kelas dan administrasi kantor,
melihat kerja bendahara, melihat ruang kelas, toilet, ruang guru, ruang kepala
sekolah, ruang komputer, ruang administrasi, struktur komite dan lingkungan
sekolah. Semua ada, tetapi nyaris tak punya ruh.
Mempelajari ritme dari hari ke hari, akhirnya
penulis menemukan sumber masalah. Pertama, anak-anak tidak terfasilitasi dengan
baik kegiatan mainnya, sehingga tidak dapat mengeksploitasi potensi yang
dimilikinya dengan maksimal.
Kedua, kurangnya tanggungjawab guru yang
mengakibatkan sanse of belonging-nya
terhadap sekolah juga kurang. Guru hanya sekedar menyelesaikan tugas tanpa ada
kebermaknaan yang membekas, baik kepada guru itu sendiri maupun pada anak-anak.
Kegiatan masih berorientasi pada kertas dan alat tulis, tanpa mencoba
menggunakan alat dan bahan yang ada di lingkungan sekolah, yang jika digunakan
sebenarnya akan lebih berkesan bagi anak dan tidak membosankan tentunya.
Ketiga, Komite Sekolah yang adapun
keberadaannya belum bisa dirasakan. Belum terlihat peranannya di masyarakat, termasuk di
sekolah.
Menemukan Mutiara
Terpendam
Setelah menemukan permasalahan yang ada, penulis
mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu potensi yang dimiliki
oleh warga sekolah, baik dari murid, guru maupun komite. Potensi-potensi itu penulis
kelompokkan menjadi 3.
1. Murid.
Melihat
jumlah murid yang saat itu kisaran 20 anak, di rentang usia 6 – 6,5 tahun, yang
secara psikologis berada pada tahap usia siap memasuki jenjang SD. Artinya
mereka siap secara mental, berani dan bertanggung jawab. Mereka menyukai
tantangan dan senang berkompetisi. Ada yang pandai menghafal surah pendek
(tahfidz Qur’an), ada yang cepat dalam menyimak lagu , ada yang telaten dan
kreatif dan ada yang kekuatan motorik kasarnya luar biasa.
2. Guru.
Guru-guru
yang ada telah memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai sebagai guru, yaitu
sarjana pendidikan, yang mempunyai dasar tentang 4 kompetensi yang harus
dimiliki seorang guru. Masing-masing memiliki passion tetapi malu-malu untuk menyadarinya. Beberapa pandai dalam
bercerita, ada yang pandai IT, ada yang kreatif membuat peraga dari bahan-bahan
bekas.
3. Komite.
Orang tua murid di KB-TK Puspa Melati sangat heterogen, baik profesi, pendidikan serta kemampuan ekonominya. Hal ini sebenarnya merupakan aset bagi sekolah apabila
orang tua tersebut kita libatkan dalam setiap kegiatan di sekolah dalam wadah
Komite Sekolah. Di KB-TK Puspa Melati, setiap awal tahun ajaran dibentuklah kepengurusan
Komite. Tujuannya agar Komite Sekolah menjadi wadah sharing bersama antara sekolah dengan orang tua, sehingga keberadaannya dapat mendukung kegiatan sekolah, memberi dorongan
dan masukan atas berbagai masalah yang dihadapi sekolah dalam upaya peningkatan
pelayanan terhadap anak didik.
Mengasah Mutiara yang Terpendam
Sebagaimana masalah yang saya temukan
sebelumnya, sesegera mungkin solusi yang tepat harus didapatkan. Solusi itu
adalah:
1. Murid
Sekolah
menfasilitasi potensi yang berhasil diidentifikasi dengan memberikan tambahan
waktu di akhir kegiatan. Ada yang frekuensinya setiap hari untuk tahfidzul
Qur’an, ada juga yang beberapa kali dalam sepekan seperti melukis, menyanyi dan
ketangkasan. Karena sangat senang, tak jarang anak-anak meminta di luar jadwal
yang telah ditentukan.
2. Guru
2.1
Supervisi
Sebagai
kepala sekolah, penulis harus melakukan supervisi ini sebagai wujud tanggung
jawab kepada guru, untuk mengamati dan memotivasi guru atas apa yang telah
dilakukan dan untuk perbaikan yang akan dilakukan selanjutnya. Supervisi
dilakukan terjadwal bagi setiap guru dengan frekuensi yang sama setiap 3 bulan
sekali dan materi supervisi yang telah dirancang sesuai dengan 4 kompetensi
guru, yaitu paedagogi, profesional, kepribadian dan sosialnya.
2.2 Evaluasi
Setiap
akhir pekan, di hari Sabtu, khusus digunakan untuk pembinaan. Semua guru dan staf bersama kepala sekolah,
berkumpul untuk melakukan tadarus dan evaluasi selama 5 hari kegiatan. Bahan
evaluasi tidak lepas dari hasil supervisi yang telah dilakukan, terkait 4
kompetensi yang harus dimiliki guru. Mulai dari bagaimana membuat kegiatan main
yang menyenangkan dan berpusat pada anak, pencatatan perkembangan anak,
mengatasi anak-anak yang memerlukan perhatian khusus dan memberikan motivasi
kepada guru. Pada masa-masa tertentu, pembinaan dilakukan bersama komite
sekolah, yang dilakukan dengan anjangsana.
3. Komite Sekolah
Anggota
komite yang semua terdiri dari ibu-ibu ini, juga mempunyai passion yang berbeda. Ada yang mempunya keahlian memasak,
bertanggung jawab untuk menu makan sehat anak-anak setiap bulannya. Ada yang pandai menjahit, membantu ketersediaan
keperluan anak-anak seperti celemek, baju adat dan baju profesi. Ada lagi yang
telaten bercocok tanam, mereka bertanggung jawab terhadap tanaman yang
dibudidayakan menggunakan hidroponik, yang hasil sayurannya digunakan sebagai
menu makan sehat. Dan yang terakhir adalah keahlian dalam marketing. Bidang
marketing bertanggung jawab atas bazar makanan tradisional tanpa bahan pengawet
dan memasarkan hasil sayuran hidroponik yang dilakukan setiap hari Jumat,
sedangkan persewaan pakaian adat dan profesi dilakukan pada momen tertentu.
Mutiara-mutiara itu
mulai memancarkan sinarnya
Memasuki bulan ketiga, penulis mulai melihat
perubahan. Perubahan yang terjadi pada anak-anak, guru dan komite tentunya.
Anak-anak menunjukkan kematangan secara
mental maupun psikologisnya. Dalam ajang kompetisi juga dilakukan dengan senang
hati, tanpa ada beban harus menang atau bagaimana jika kalah. Karena anak-anak
selalu dibekali bahwa mereka semuanya anak-anak hebat, dan mendapatkan piala
itu bonus. Kata-kata itulah yang ternyata mampu melejitkan potensi mereka.
Kejuaraan demi kejuaraan diraih silih berganti. Mulai dari Juara 1 lomba
tahfidz tingkat kabupaten, dan finalis lomba tahfidz di tingkat provinsi Jawa
Timur. Juara 3 melukis, juara 3
ketangkasan egrang bathok putra dan putri, juara 2 ketangkasan memindah
dingklik putra dan putri dan menyanyi di harapan 3.
Untuk guru tampak pada meningkatnya kinerja
guru yang perlahan tapi pasti, grafiknya bergerak naik. Mereka mulai mengenali passion-nya masing-masing. Berani
mengaktualisasikan diri baik di hadapan anak-anak maupun orang tua murid.
Bahkan yang lain berusaha untuk mengembangkan kemampuan di bidang lainnya,
sehingga tampak mempunyai kemampuan yang sama. Mulai tumbuh tanggung jawabnya
sebagai guru, mulai dari pembuatan perencanaan sampai pada evaluasi tanpa harus
diperintah, pengawasan itu rupanya sudah melekat pada diri masing-masing guru.
Demikian pula dengan komite. Kegiatan yang
dilakukan secara terjadwal dan sungguh-sungguh. Mereka terlibat langsung pada
kegiatan-kegiatan keluar sekolah dan kepanitiaan lainnya. Secara tidak langsung
mereka juga mengiklankan sekolah dengan mengupload
berbagai kegiatan di media sosial masing-masing.
Tingginya Animo
Masyarakat
Sinergi yang mulai terjalin dengan baik
antara pihak sekolah, orang tua dan murid, menjadi kekuatan tersendiri untuk
selalu bergerak maju. Seakan berlomba untuk bisa memberikan yang terbaik bagi
sekolah.
Sebagai puncaknya, di akhir tahun pertama
2018/2019, sekolah mengadakan pentas seni dan pisah asuh untuk kelompok B.
Persiapan yang dilakukan dengan seksama dan gotong royong oleh komite sebagai
panitia, kesiapan anak-anak untuk mengisi acara oleh guru, berujung pada pelaksanaan yang mendapatkan
apresiasi luar biasa oleh para undangan.
Sebagai kepala TK, penulis berkesempatan
menyampaikan laporan perjalanan selama setahun, bahwa untuk tahun pelajaran 2019/2020,
untuk Taman Kanak-Kanak telah melebihi kuota, sehingga terpaksa pendaftaran
ditutup. Hal ini memang terlalu dini untuk bisa dikatakan sebagai tingginya
animo masyarakat. Tetapi ini menjadi hal yang sangat positif bagi sekolah untuk
terus berbenah diri. Adapun prestasi anak-anak di tahun 2018/2029 adalah:
1. Finalis Tahfidz tingkat Provinsi Jawa Timur
2. Juara 1 Tahfidz tingkat Kabupaten Jember
3. Juara 2 Ketangkasan Egrang Bathok Putra tingkat Kecamatan
Kaliwates
4. Juara 2 Ketangkasan Egrang Bathok Putri tingkat Kecamatan
Kaliwates
5. Juara 3 Ketangkasan Memindah Dingklik Putra tingkat
Kecamatan Kaliwates
6. Juara 3 Ketangkasan Memindah Dingklik Putra tingkat
Kecamatan Kaliwates
7. Juara 3 Melukis tingkat Kecamatan Kaliwates
8. Harapan 3 Menyanyikan Lagu Islami tingkat Kecamatan
Kaliwates
Sekolah
juga telah memproduksi sendiri sayuran sehat non pestisida melalui hidroponik.
Sayuran ini menjadi pendukung utama dalam menu makan sehat anak-anak. Untuk
mensiasati sulit makan sayur bagi anak-anak, komite mengolah sayuran menjadi nugget sayur dan ice
cream sayur, selain ada menu dalam bentuk sayuran.
Menutup
tulisan ini penulis juga menyampaikan, bahwa prestasi anak-anak di tahun
2019/2020 tak kalah luar biasanya. Seperti beberapa kali juara 1 Tahfidz untuk
kategori KB dan beberapa kali juara 2 dan 3 pada lomba mewarnai.
Selanjutnya
program pembuatan buku anak-anak di tahun pelajaran 2019/2020, mendapat
dukungan luar biasa pula dari orang tua murid. Alhamdulillah, di tengah pandemi
covid-19 ini akhirnya buku tersebut terwujud dan di launching pada 2 Mei 2020 lalu dengan judul Semua Punya Cerita,
karya ananda KB-TK Puspa Melati Jember.
Mari terus bergerak
dan menginspirasi.
0 comments:
Post a Comment