Thursday, May 21, 2020

BONUS RAMADHAN TAHUN INI


           

 13 Mei 2020


A.  Ramadhan yang Berbeda
Memaknai Ramadhan tahun ini tentunya membutuhkan energi dan kesabaran luar biasa. Menjalani Ramadhan di tengah pandemi covid-19 yang membatasi aktivitas di luar, baik pribadi maupun berjamaah, dengan tetap melakukan prosedur keamanan dan kesehatan diri seperti  cuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir atau menggunakan hand sanitizer dan menggunakan masker dimanapun dan kapanpun.
Rutinitas yang dirindukan saat Ramadhan seperti taraweh, tadarus, berbuka bersama bahkan i’tikaf, tidak bisa dilakukan bersama-sama di masjid. Demikian pula dengan mudik. Momen yang selalu dinantikan setiap orang, setiap keluarga, untuk pulang ke kampung halaman setelah setahun atau lebih tidak pulang, untuk melepas rindu yang membuncah dan bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung halaman, tidak bisa dilakukan lagi untuk sementara waktu.
Kebijakan pemerintah untuk membatasi aktivitas diri ini yang ditindaklanjuti dengan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di sebagian besar wilayah Indonesia, mengharuskan semua aktivitas dilakukan dari rumah (work from home) dan tetap di rumah saja (stay at home) sebagai ikhtiar untuk memutus rantai penyebaran covid-19 ini.
Upaya pemerintah ini sejalan dengan karantina yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi wabah penyakit yang menyerang. Tentunya di jaman Rasulullah tidak menggunakan istilah karantina atau isolasi seperti saat ini. Karantina dan isolasi yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ditulis dalam sebuah hadits, yang artinya: “Jika  kamu mendengar ada wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi  jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR Bukhari).
Maka sebaik-baik seorang muslim adalah yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian.

B. Mengisi Ramadhan
Setiap muslim pasti merindukan datangnya bulan Ramadhan. Merindukan suara kentongan sebagai tanda untuk bangun sahur, aktivitas seputar sahur dan keseruan menyiapkan hidangan berbuka, ngabuburit dengan mendengarkan ceramah, tadarus, taraweh, i’tikaf, berbagi takjil dan membagikan zakat.
Harapan untuk bisa meraih banyak kebaikan di bulan penuh berkah ini, bulan yang di dalamnya Allah SWT janjikan dilipatgandakan segala amalan baik. Maka akan sangat merugi jika pandemi ini menjadi kendala untuk meraihnya. Sebaliknya, kita dapat mengambil hikmah, meraih lebih banyak kebaikan karena bertambah banyaknya waktu luang kita di rumah.
Dan benar saja, munculnya banyak tawaran baik seminar maupun pelatihan yang dilakukan secara online, menjadi salah satu solusi untuk mengisi waktu-waktu luang kita. Tentunya hal ini sangat menguntungkan ketika kita harus stay at home, tetapi tetap bisa menambah ilmu. “Karena belajar itu tidak mengenal ruang dan waktu,” begitu kata pak Nadiem saat menyikapi belajar jarak jauh di masa pandemi ini.
Peluang belajar terbuka lebar di depan kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya, memilih dan memilah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Bukan sekedar, maaf, untuk mendapatkan sertifikat semata.
Mempertimbangkan hal tersebut di atas, kemudian penulis memutuskan mengikuti beberapa pelatihan secara online. Disamping itu, penulis juga memberanikan diri mengikuti kegiatan menulis dalam jaringan melalui grup whatsapp yang dimotori oleh PT Rumah Menulis Alqalam, Surabaya.
Mendengar kata menulis saja, serasa jauh panggang dari api. Tidak mungkin. Rasa tidak percaya diri mulai menghantui. Tetapi rasa itu perlahan sirna setelah mendengarkan motivasi-motivasi yang disampaikan oleh bapak Najib Sulhan selaku CEO PT Rumah Menulis Alqalam.
Motivasi-motivasi luar biasa dari bapak Najib ternyata mampu mengobarkan semangat menulis yang selama ini hanya diangan-angan. Pantas saja tulisan tidak pernah selesai. Itu karena tulisan yang dibuat selalu dikoreksi sebelum selesai, dibaca berulang-ulang hingga berujung pada emosi yang muncul. Kendala selanjutnya, ketakutan jika tulisan tidak selesai, terjebak oleh aturan-aturan menulis yang pernah dipelajari. Seolah menulis dikelilingi oleh pagar berduri. Dan ujung-ujungnya menulis hanya dibayangkan saja, tak berwujud.
Maka berbekal motivasi itulah, awal menulis dimulai. Menulis menjadi salah satu aktivitas yang mengisi ramadhan selain kegiatan rutin seperti tadarus dan taraweh di rumah.
Karya lain yang juga dikerjakan dalam waktu bersamaan adalah membuat buku cerita bergambar, karya keempat yang penulis buat untuk kalangan anak usia dini. 

C. Hasil yang tak Terduga
Dalam sebuah ceramahnya, ustadz Abdus Shomad pernah menyampaikan: “Diawali dengan keterpaksaan, lama-lama jadi kebiasaan, lama-lama berubah menjadi kebutuhan”. Sebenarnya ceramah tersebut dimaksudkan sebagai kebiasaan bangun pagi untuk melakukan sholat Subuh. Tetapi penulis juga menganggap bahwa ceramah itu bisa berlaku juga untuk menulis.
Selain ceramah di atas, faktor utama menulis adalah kemauan, keinginan, motivasi diri yang kemudian disertai dengan kemampuan. Semuanya apabila berkolabarasi dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat untuk melahirkan tulisan. Menejemen waktu juga menjadi faktor yang lain. Membagi waktu menulis kita dengan kesibukan lainnya yang telah terjadwal sebelumnya dan memilih waktu yang tepat kapan kita menulis. Yang diperlukan bukan berapa lamanya kita menulis, tetapi bagaimana kita bisa istiqamah untuk menulis. Banyak membaca sebagai referensi, menambah perbendaharaan kata, ilmu dan pengetahuan lainnya.
Hasilnya, sejak di canangkan menulis tanggal 1 Mei 2020 oleh bapak Najib, tanggal 3 Mei naskah pertama selesai dan diserahkan. Bahagia rasanya tulisan pertama selesai. Semangat menulis masih berkobar layaknya api yang tak bisa padam. Tantangan menulis untuk buku kedua rampung pada tanggal 7 Mei dan naskah untuk buku ketiga pada 13 Mei 2020.
Takjub, bersemangat, haru dan entah perasaan apalagi namanya, berbaur menjadi satu. Melihat tiga naskah selesai kurang dari 15 hari. Dan naskah-naskah itu menjadi buku, bersama karya teman-teman lainnya.
Ternyata menulis itu mudah jika kita bisa meluruskan niat mengapa kita menulis. Sebaliknya, menulis menjadi sangat sulit ketika terlalu banyak teori yang dipelajari tetapi tidak segera action.

D. Petir di Siang Hari
“Ah bukumu ini tidak layak jual”, kata seseorang tanpa basa basi. Mendengar komentar seorang teman itu, rasanya bagai petir di siang hari,  membuat penulis berpikir ulang. “Mengapa kita menulis? Apakah karena royalty semata?”.
Mengutip kata Imam Syafi’i, “Ilmu itu ibarat binatang buruan, dan untuk mengikatnya dengan cara menulis”. Itulah sebabnya mengapa kita menulis. Karena menulis merupakan cara kita untuk mengumpulkan apa yang kita alami, kita pelajari, juga apa yang menjadi imajinasi kita. Dengan dituliskannya apa yang ada di benak kita, maka dapat membantu menyimpan memori-memori kita, jika suatu saat terlupakan.
Persoalan selanjutnya, apakah kita akan mendapat royalty atau tidak, bagi penulis, itu adalah akibat dari tulisan-tulisan dan karya kita yang selalu menyertai. Jika kita menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama, maka bisa dipastikan, tidak akan ada lagi tulisan-tulisan berikutnya. Maka kita harus memperbaiki tujuan kita menulis itu untuk apa. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “ Dengan menulis kita menjadi tuan bagi diri sendiri”.
Sepandai dan jeniusnya seseorang, tanpa menulis dia akan dilupakan. Menulis itu ibarat kita meninggalkan jejak. Lihatlah para ulama-ulama, tokoh-tokoh, yang pada zamannya kitapun belum dilahirkan, tetapi kita tetap mengenalnya. Darimana? Ya dari tulisan-tulisan beliau yang ditinggalkan tentunya. Itulah mengapa menulis itu menciptakan  keabadian.

E.  Bonus Ramadhan
Menulislah sebagaimana jari jemarimu memainkan tombol-tombol keyboard di depanmu. Ikuti kemana alur pikiranmu seperti air yang mengalir. Maka lihat hasilnya.
Menulis itu ibarat kita mengumpulkan segala yang ada di benak, kemudian menganyam kata demi kata, menjadi hamparan yang indah untuk dinikmati. Ketika satu karya tulisan selesai, pasti ingin menulis lagi. Tulisan kedua, ketiga dan seterusnya. Anyamlah kata sebanyak yang kita mampu menganyamnya. Jadikan blog untuk membantu menampung tulisan-tulisan kita. Kini menulis bukan lagi momok yang harus dihindari.
Allah yaa Rahmaan, yaa Rahiim. Ramadhan tahun ini, sungguh luar biasa berkah yang Allah SWT berikan, lengkap dengan bonus karya-karya tulisan. Setidaknya ada 5 karya yang Allah SWT ijinkan untuk bisa diterbitkan selama bulan Ramadhan ini. Buku-buku tersebut adalah Semua Punya Cerita (antologi karya anak), Mengubah Masalah Menjadi Berkah (antologi), Guru Inspiratif: Bergerak dan Menggerakkan (antologi), Kemenangan: Berguru pada Ramadhan (antologi) dan Bimo Sakit Perut (buku cerita bergambar).
Sungguh ramadhan kali ini banyak sekali pelajaran yang bisa penulis ambil hikmahnya. Bulan mulia yang kita nanti-nanti dan kita rindukan. Bulan ramadhan adalah bulan training, yang akan terlihat hasilnya setelah ramadhan berlalu. Melatih untuk lebih semangat dalam beribadah, melatih bagaimana lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah yang kita hadapi, dan dapat mengasah mental menjadi lebih matang serta semangat untuk menulis dan berkarya.
Semoga semangat ramadhan senantiasa melekat di sebelas bulan ke depan, sehingga bisa kembali bertemu dengan ramadhan berikutnya. @




0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design