13 Mei 2020
A.
Ramadhan yang Berbeda
Memaknai Ramadhan tahun ini tentunya membutuhkan energi
dan kesabaran luar biasa. Menjalani Ramadhan di tengah pandemi covid-19 yang
membatasi aktivitas di luar, baik pribadi maupun berjamaah, dengan tetap
melakukan prosedur keamanan dan kesehatan diri seperti cuci tangan menggunakan sabun dan air yang
mengalir atau menggunakan hand sanitizer dan
menggunakan masker dimanapun dan kapanpun.
Rutinitas yang dirindukan saat Ramadhan seperti taraweh,
tadarus, berbuka bersama bahkan i’tikaf, tidak bisa dilakukan bersama-sama di
masjid. Demikian pula dengan mudik. Momen yang selalu dinantikan setiap orang,
setiap keluarga, untuk pulang ke kampung halaman setelah setahun atau lebih tidak
pulang, untuk melepas rindu yang membuncah dan bersilaturahim dengan keluarga
besar di kampung halaman, tidak bisa dilakukan lagi untuk sementara waktu.
Kebijakan pemerintah untuk membatasi aktivitas diri ini
yang ditindaklanjuti dengan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)
di sebagian besar wilayah Indonesia, mengharuskan semua aktivitas dilakukan
dari rumah (work from home) dan tetap
di rumah saja (stay at home) sebagai
ikhtiar untuk memutus rantai penyebaran covid-19 ini.
Upaya pemerintah ini sejalan dengan karantina yang telah
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi wabah penyakit yang
menyerang. Tentunya di jaman Rasulullah tidak menggunakan istilah karantina
atau isolasi seperti saat ini. Karantina dan isolasi yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW ditulis dalam sebuah hadits, yang artinya: “Jika kamu mendengar ada wabah di suatu wilayah,
maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka
jangan tinggalkan tempat itu” (HR Bukhari).
Maka sebaik-baik seorang muslim adalah yang bisa
mengambil hikmah dari setiap kejadian.
B.
Mengisi Ramadhan
Setiap muslim pasti merindukan datangnya bulan Ramadhan. Merindukan
suara kentongan sebagai tanda untuk bangun sahur, aktivitas seputar sahur dan
keseruan menyiapkan hidangan berbuka, ngabuburit dengan mendengarkan ceramah,
tadarus, taraweh, i’tikaf, berbagi takjil dan membagikan zakat.
Harapan untuk bisa meraih banyak kebaikan di bulan penuh berkah
ini, bulan yang di dalamnya Allah SWT janjikan dilipatgandakan segala amalan
baik. Maka akan sangat merugi jika pandemi ini menjadi kendala untuk meraihnya.
Sebaliknya, kita dapat mengambil hikmah, meraih lebih banyak kebaikan karena
bertambah banyaknya waktu luang kita di rumah.
Dan benar saja, munculnya banyak tawaran baik seminar maupun
pelatihan yang dilakukan secara online,
menjadi salah satu solusi untuk mengisi waktu-waktu luang kita. Tentunya hal
ini sangat menguntungkan ketika kita harus stay
at home, tetapi tetap bisa menambah ilmu. “Karena belajar itu tidak
mengenal ruang dan waktu,” begitu kata pak Nadiem saat menyikapi belajar jarak
jauh di masa pandemi ini.
Peluang belajar terbuka lebar di depan kita, tinggal
bagaimana kita menyikapinya, memilih dan memilah sesuai dengan kemampuan yang
kita miliki. Bukan sekedar, maaf, untuk mendapatkan sertifikat semata.
Mempertimbangkan hal tersebut di atas, kemudian penulis
memutuskan mengikuti beberapa pelatihan secara online. Disamping itu, penulis juga memberanikan diri mengikuti
kegiatan menulis dalam jaringan melalui grup whatsapp yang dimotori oleh PT Rumah Menulis Alqalam, Surabaya.
Mendengar kata menulis saja, serasa
jauh panggang dari api. Tidak mungkin. Rasa
tidak percaya diri mulai menghantui. Tetapi rasa itu perlahan sirna setelah
mendengarkan motivasi-motivasi yang disampaikan oleh bapak Najib Sulhan selaku
CEO PT Rumah Menulis Alqalam.
Motivasi-motivasi luar biasa dari
bapak Najib ternyata mampu mengobarkan semangat menulis yang selama ini hanya
diangan-angan. Pantas saja tulisan tidak pernah selesai. Itu karena tulisan
yang dibuat selalu dikoreksi sebelum selesai, dibaca berulang-ulang hingga berujung
pada emosi yang muncul. Kendala selanjutnya, ketakutan jika tulisan tidak
selesai, terjebak oleh aturan-aturan menulis yang pernah dipelajari. Seolah menulis
dikelilingi oleh pagar berduri. Dan ujung-ujungnya menulis hanya dibayangkan
saja, tak berwujud.
Maka berbekal motivasi itulah, awal
menulis dimulai. Menulis menjadi salah satu aktivitas yang mengisi ramadhan
selain kegiatan rutin seperti tadarus dan taraweh di rumah.
Karya lain yang juga dikerjakan
dalam waktu bersamaan adalah membuat buku cerita bergambar, karya keempat yang
penulis buat untuk kalangan anak usia dini.
C.
Hasil yang tak Terduga
Dalam sebuah ceramahnya, ustadz Abdus Shomad pernah
menyampaikan: “Diawali dengan keterpaksaan, lama-lama jadi kebiasaan, lama-lama
berubah menjadi kebutuhan”. Sebenarnya ceramah tersebut dimaksudkan sebagai
kebiasaan bangun pagi untuk melakukan sholat Subuh. Tetapi penulis juga
menganggap bahwa ceramah itu bisa berlaku juga untuk menulis.
Selain ceramah di atas, faktor utama menulis adalah kemauan, keinginan, motivasi
diri yang kemudian disertai dengan kemampuan. Semuanya apabila berkolabarasi
dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat untuk melahirkan tulisan. Menejemen waktu
juga menjadi faktor yang lain. Membagi waktu menulis kita dengan kesibukan
lainnya yang telah terjadwal sebelumnya dan memilih waktu yang tepat kapan kita
menulis. Yang diperlukan bukan berapa lamanya kita menulis, tetapi bagaimana
kita bisa istiqamah untuk menulis. Banyak membaca sebagai referensi, menambah
perbendaharaan kata, ilmu dan pengetahuan lainnya.
Hasilnya, sejak di canangkan menulis tanggal 1 Mei 2020
oleh bapak Najib, tanggal 3 Mei naskah pertama selesai dan diserahkan. Bahagia
rasanya tulisan pertama selesai. Semangat menulis masih berkobar layaknya api
yang tak bisa padam. Tantangan menulis untuk buku kedua rampung pada tanggal 7 Mei
dan naskah untuk buku ketiga pada 13 Mei 2020.
Takjub, bersemangat, haru dan entah perasaan apalagi
namanya, berbaur menjadi satu. Melihat tiga naskah selesai kurang dari 15 hari.
Dan naskah-naskah itu menjadi buku, bersama karya teman-teman lainnya.
Ternyata menulis itu mudah jika kita
bisa meluruskan niat mengapa kita menulis. Sebaliknya, menulis menjadi sangat
sulit ketika terlalu banyak teori yang dipelajari tetapi tidak segera action.
D.
Petir di Siang Hari
“Ah bukumu ini
tidak layak jual”, kata seseorang tanpa basa basi. Mendengar komentar seorang
teman itu, rasanya bagai petir di siang hari,
membuat penulis berpikir ulang. “Mengapa kita menulis? Apakah karena
royalty semata?”.
Mengutip kata Imam
Syafi’i, “Ilmu itu ibarat binatang buruan, dan untuk mengikatnya dengan cara menulis”.
Itulah sebabnya mengapa kita menulis. Karena menulis merupakan cara kita untuk
mengumpulkan apa yang kita alami, kita pelajari, juga apa yang menjadi
imajinasi kita. Dengan dituliskannya apa yang ada di benak kita, maka dapat
membantu menyimpan memori-memori kita, jika suatu saat terlupakan.
Persoalan selanjutnya,
apakah kita akan mendapat royalty atau tidak, bagi penulis, itu adalah akibat
dari tulisan-tulisan dan karya kita yang selalu menyertai. Jika kita
menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama, maka bisa dipastikan, tidak akan
ada lagi tulisan-tulisan berikutnya. Maka kita harus memperbaiki tujuan kita
menulis itu untuk apa. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “ Dengan menulis
kita menjadi tuan bagi diri sendiri”.
Sepandai dan
jeniusnya seseorang, tanpa menulis dia akan dilupakan. Menulis itu ibarat kita
meninggalkan jejak. Lihatlah para ulama-ulama, tokoh-tokoh, yang pada zamannya
kitapun belum dilahirkan, tetapi kita tetap mengenalnya. Darimana? Ya dari
tulisan-tulisan beliau yang ditinggalkan tentunya. Itulah mengapa menulis itu menciptakan
keabadian.
E.
Bonus Ramadhan
Menulislah sebagaimana jari jemarimu memainkan
tombol-tombol keyboard di depanmu. Ikuti kemana alur pikiranmu seperti air yang
mengalir. Maka lihat hasilnya.
Menulis itu ibarat kita mengumpulkan segala yang ada di
benak, kemudian menganyam kata demi kata, menjadi hamparan yang indah untuk
dinikmati. Ketika satu karya tulisan selesai, pasti ingin menulis lagi. Tulisan
kedua, ketiga dan seterusnya. Anyamlah kata sebanyak yang kita mampu
menganyamnya. Jadikan blog untuk membantu menampung tulisan-tulisan kita. Kini
menulis bukan lagi momok yang harus dihindari.
Allah yaa Rahmaan, yaa Rahiim. Ramadhan tahun ini,
sungguh luar biasa berkah yang Allah SWT berikan, lengkap dengan bonus
karya-karya tulisan. Setidaknya ada 5 karya yang Allah SWT ijinkan untuk bisa
diterbitkan selama bulan Ramadhan ini. Buku-buku tersebut adalah Semua Punya
Cerita (antologi karya anak), Mengubah Masalah Menjadi Berkah (antologi), Guru
Inspiratif: Bergerak dan Menggerakkan (antologi), Kemenangan: Berguru pada
Ramadhan (antologi) dan Bimo Sakit Perut (buku cerita bergambar).
Sungguh ramadhan kali ini banyak sekali pelajaran yang
bisa penulis ambil hikmahnya. Bulan mulia yang kita nanti-nanti dan kita
rindukan. Bulan ramadhan adalah bulan training, yang akan terlihat hasilnya
setelah ramadhan berlalu. Melatih untuk lebih semangat dalam beribadah, melatih
bagaimana lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah yang kita hadapi,
dan dapat mengasah mental menjadi lebih matang serta semangat untuk menulis dan
berkarya.
Semoga semangat ramadhan senantiasa melekat di sebelas
bulan ke depan, sehingga bisa kembali bertemu dengan ramadhan berikutnya. @
0 comments:
Post a Comment