Friday, May 8, 2020

PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN (bag. 1)

 7 Mei 2020




Pagi ini udara terasa dingin. Langit tampak mendung dan matahari belum juga menampakkan sinarnya. Ujung dedaunan masih menyisakan butiran embun yang enggan jatuh, begitu pula dengan rerumputan yang masih basah. Kulihat dari balik jendela kamarku beberapa ekor kupu-kupu  tampak beterbangan mencari madu pada bunga-bunga yang telah mekar di halaman rumah, sementara yang lainnya hanya sekedar bersenda gurau dan berkejaran seolah tak menghiraukan dinginnya pagi. Kicauan burung pipit di atas ranting pohon depan rumah juga saling bersahutan, memecah dinginnya pagi.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah libur  panjang. Aku sangat bersemangat ingin cepat-cepat sampai ke sekolah, sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman dan menceritakan pengalaman saat liburan.

Aku membantu Ibu menyiapkan sarapan. Pagi ini Ibu membuatkan nasi goreng telur mata sapi kesukaanku. Bekal untuk makan di sekolahpun berupa beberapa lembar roti tawar isi selai kacang sudah Ibu siapkan dan kuletakkan di atas meja makan supaya tidak ketinggalan. Selesai sarapan, bekal kumasukkan ke dalam tas, lengkap dengan sebotol air. Ibu mengingatkanku untuk tidak lupa memakai baju hangat.

Aku sudah siap berangkat ke sekolah dan menunggu Ayah di teras rumah. Seperti biasa di setiap pagi, pak Gun petugas kebersihan di lingkunganku datang. “Selamat pagi, Najwa,” sapanya. “Selamat pagi pak Gun, pagi ini dingin sekali ya pak?,” sahutku. “Iya nak Najwa, pak Gun juga merasakannya,” jawab pak Gun sambil memindahkan sampah. “Oh iya, pak Gun sudah sehat kan?” tanyaku kembali. “Alhamdulillah nak Najwa, sudah sehat. Luka di kaki Bapak sudah sembuh, dan Bapak sudah bisa bekerja kembali,” jawab Pak Gun sambil tersenyum. “Syukurlah..” jawabku senang. Setelah selesai memindahkan semua sampah ke dalam gerobaknya, pak Gun melambaikan tangan tanda berpamitan. Aku membalasnya. Pak Gun melanjutkan perjalanan mengambil sampah-sampah di rumah tetanggaku.

Pak Gun, begitu biasa kami memanggilnya. Tinggalnya di perkampungan tidak jauh dari rumah tinggalku. Usianya sudah tidak muda lagi, orangnya sederhana, jujur, rajin dan tanggung jawab. Setelah selesai mengambil sampah-sampah di lingkungan rumahku, biasanya pak Gun menyempatkan diri untuk melihat sungai-sungai kecil di sekitar daerah kami. Tidak jarang waktu istirahatnya tersita untuk membersihkan sampah-sampah yang sengaja dibuang di sungai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Beberapa waktu lalu, saat sedang membersihkan dan mengangkat sampah dari sungai, sebuah sepeda motor yang melaju kencang tidak bisa dikendalikan pengendaranya. Sepeda motor menjadi oleng dan menabrak pak Gun yang saat itu sedang di atas jembatan merapikan sampah di gerobak yang baru dibawanya dari dasar sungai. 

Pak Gun tidak sempat menghindar, badannya terhempas di jalan, kaki dan tangannya terluka. Pak Gun tak sadarkan diri. Si pengendara sepeda motor yang juga terjatuh segera melarikan diri. Rupanya dia ketakutan melihat pak Gun tidak sadarkan diri.

Beberapa warga yang kebetulan melintas di jalan sekitar jembatan mencoba mengejar si pengendara sepeda, namun kecepatan sepeda motor si pengendara terlalu tinggi sehingga warga tidak dapat mengejarnya. 

Apakah pak Gun tertolong, siapa yang menolongnya?
Tunggu kelanjutannya 😌

0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design