7 Mei 2020
Pagi ini udara terasa
dingin. Langit tampak mendung dan matahari belum juga menampakkan sinarnya.
Ujung dedaunan masih menyisakan butiran embun yang enggan jatuh, begitu pula
dengan rerumputan yang masih basah. Kulihat dari balik jendela kamarku beberapa
ekor kupu-kupu tampak beterbangan
mencari madu pada bunga-bunga yang telah mekar di halaman rumah, sementara yang
lainnya hanya sekedar bersenda gurau dan berkejaran seolah tak menghiraukan
dinginnya pagi. Kicauan burung pipit di atas ranting pohon depan rumah juga saling
bersahutan, memecah dinginnya pagi.
Hari ini adalah hari pertamaku
masuk sekolah kembali setelah libur panjang.
Aku sangat bersemangat ingin cepat-cepat sampai ke sekolah, sudah tidak sabar
bertemu dengan teman-teman dan menceritakan pengalaman saat liburan.
Aku membantu Ibu
menyiapkan sarapan. Pagi ini Ibu membuatkan nasi goreng telur mata sapi
kesukaanku. Bekal untuk makan di sekolahpun berupa beberapa lembar roti tawar
isi selai kacang sudah Ibu siapkan dan kuletakkan di atas meja makan supaya
tidak ketinggalan. Selesai sarapan, bekal kumasukkan ke dalam tas, lengkap
dengan sebotol air. Ibu mengingatkanku untuk tidak lupa memakai baju hangat.
Aku sudah siap berangkat
ke sekolah dan menunggu Ayah di teras rumah. Seperti biasa di setiap pagi, pak
Gun petugas kebersihan di lingkunganku datang. “Selamat pagi, Najwa,” sapanya.
“Selamat pagi pak Gun, pagi ini dingin sekali ya pak?,” sahutku. “Iya nak
Najwa, pak Gun juga merasakannya,” jawab pak Gun sambil memindahkan sampah. “Oh
iya, pak Gun sudah sehat kan?” tanyaku kembali. “Alhamdulillah nak Najwa, sudah
sehat. Luka di kaki Bapak sudah sembuh, dan Bapak sudah bisa bekerja kembali,”
jawab Pak Gun sambil tersenyum. “Syukurlah..” jawabku senang. Setelah selesai
memindahkan semua sampah ke dalam gerobaknya, pak Gun melambaikan tangan tanda
berpamitan. Aku membalasnya. Pak Gun melanjutkan perjalanan mengambil
sampah-sampah di rumah tetanggaku.
Pak Gun, begitu biasa
kami memanggilnya. Tinggalnya di perkampungan tidak jauh dari rumah tinggalku.
Usianya sudah tidak muda lagi, orangnya sederhana, jujur, rajin dan tanggung
jawab. Setelah selesai mengambil sampah-sampah di lingkungan rumahku, biasanya
pak Gun menyempatkan diri untuk melihat sungai-sungai kecil di sekitar daerah
kami. Tidak jarang waktu istirahatnya tersita untuk membersihkan sampah-sampah
yang sengaja dibuang di sungai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa
waktu lalu, saat sedang membersihkan dan mengangkat sampah dari sungai, sebuah
sepeda motor yang melaju kencang tidak bisa dikendalikan pengendaranya. Sepeda motor
menjadi oleng dan menabrak pak Gun yang saat itu sedang di atas jembatan
merapikan sampah di gerobak yang baru dibawanya dari dasar sungai.
Pak Gun tidak
sempat menghindar, badannya terhempas di jalan, kaki dan tangannya terluka. Pak
Gun tak sadarkan diri. Si pengendara sepeda motor yang juga terjatuh segera
melarikan diri. Rupanya dia ketakutan melihat pak Gun tidak sadarkan
diri.
Beberapa warga yang kebetulan melintas di jalan sekitar jembatan mencoba
mengejar si pengendara sepeda, namun kecepatan sepeda motor si pengendara
terlalu tinggi sehingga warga tidak dapat mengejarnya.
Apakah pak Gun tertolong, siapa yang menolongnya?
Tunggu kelanjutannya 😌
0 comments:
Post a Comment