Friday, May 8, 2020

PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN (bag. 2)


8 Mei 2020

...............

Sementara itu, warga yang lain memberi pertolongan kepada pak Gun. Pak Gun dibawa ke instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan. Warga yang lain juga menghubungi Ayah. Ayah diminta untuk segera datang ke rumah sakit tempat pak Gun mendapat pertolongan. Tanpa pikir panjang, Ayah yang ditemani Ibu dan aku segera ke rumah sakit. 

Beberapa saat kemudian, pak Gun sadar dari pingsannya. “Syukurlah, luka yang diderita pak Gun tidak parah, tetapi pak Gun harus istirahat dulu sampai lukanya betul-betul sembuh. Pak Gun bisa rawat jalan saja Pak, dan ini saya bawakan obat untuk pak Gun, setelah tiga hari pak Gun harus kontrol dan mengganti perban di lukanya,” kata Dokter kepada Ayah. Ayah mengangguk sambil mengucapkan terima kasih kepada Dokter. 

Setelah berkemas, Ayah dan beberapa warga mengantarkan pak Gun pulang. Istri pak Gun tampak cemas saat melihat pak Gun pulang dengan beberapa balutan perban di tubuhnya. Ayah kemudian menjelaskan kejadian yang menimpa pak Gun dan menyampaikan pesan Dokter. Istri pak Gun mencoba memahami dan mengangguk tanda mengerti. Sebelum pulang Ayah meminta pak Gun untuk beristirahat beberapa waktu supaya luka di tubuhnya segera pulih. Setelah beberapa lama, Ayah, Ibu dan beberapa warga yang ikut mengantar pak Gun berpamitan.


Akhirnya kami pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang Ayah dan Ibu terdengar sedang mendiskusikan sesuatu yang aku kurang jelas tentang apa. Tak lama kemudian kendaraan kami melintas di atas sungai yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Tempat pak Gun ditabrak. Ayah menepi dan memarkir kendaraan di ujung jembatan. Ayah dan Ibu kemudian turun dari mobil, akupun mengikuti mereka. Ayah berdiri di atas jembatan dan melongokkan kepalanya ke bawah. Akupun ingin tahu apa yang sedang Ayah lihat. Ibu memegangi tanganku supaya aku tidak jatuh. Sambil menghela nafas panjang, Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata banyak sekali sampah. Ayah tampak sedih kemudian mengajak kami pulang.


Sungai di sekitar rumahku memang tidak besar namun air yang mengalir cukup deras. Tetapi karena banyak yang membuang sampah di sungai, akhirnya aliran air menjadi terhambat oleh sampah-sampah. Air menjadi tergenang dan bau busuk menyengat. Tak ada lagi ikan yang hidup di sana. Sungaipun tak indah lagi untuk dilihat. Bau busuk juga membuat sesak siapa saja yang melintas di atas sungai. Jika hujan, air sungai sering meluap ke jalanan dan meninggalkan sampah di sepanjang jalan.


Sebulan sudah pak Gun istirahat dari rutinitas, untuk beberapa saat pak Gun tidak bergelut dengan sampah yang bau. Tadi malam Ayah mendapat kabar bahwa pak Gun sudah sembuh dan siap bertugas kembali. Ayah meminta pak Gun untuk datang ke rumah bersama beberapa warga satu Rukun Tetangga. Yang kebetulan Ayah sebagai ketuanya. Ayah menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi, yaitu tentang sampah yang sangat mengganggu. Warga menjadi risau dan tidak nyaman dengan kondisi ini. Ayah juga menyampaikan terima kasih kepada pak Gun yang sudah membantu warga selama ini. Untuk mengatasi masalah ini, warga sepakat bergotong royong membersihkan sungai dan menghimbau seluruh anggota keluarga dan orang-orang di sekitar untuk melindungi sungai dengan cara tidak membuang sampah di sungai. Itu hasil musyawarah yang disampaikan Ayah pada Ibu.


#Apakah pak Gun akan diberhentikan dari pekerjaannya karena sudah sebulan tidak bekerja? 😔
simak kelanjutannya ya..

0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design