9 Mei 2020
..................
Beberapa waktu lalu aku
bertanya pada Ibu,”Bu, pak Gun tidak malu ya menjadi petugas kebersihan seperti
itu”. Ibuku menjawab,”Najwa, mengapa pak Gun harus malu? Justru sebaliknya, pekerjaan
ini sudah menjadi pilihan pak Gun, selain mencari nafkah untuk keluarganya, pak
Gun senang karena bisa membantu Ibu dan tetangga lainnya membuang sampah.
Rumah
kita menjadi bersih dan tidak bau. Bayangkan kalau tidak ada pak Gun atau
petugas kebersihan lainnya, tentu sampah akan menumpuk, akan banyak lalat,
kecoak dan nyamuk. Rumah dan lingkungan menjadi tidak nyaman. “Tapi kasihan
pak Gun kan Bu? Badannya jadi kotor dan bau,” lanjutku. “Betul Najwa, semua
pekerjaan mempunyai resiko. Seperti pak Gun, misalnya. Karena sampah itu kotor
dan bau, maka disaat bekerja pak Gun selalu melindungi dirinya dengan
menggunakan sepatu boot, masker, sarung tangan dan topi. Yang lebih penting
lagi, selesai bekerja pak Gun harus membersihkan diri,” jawab Ibu. Aku
mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Kita juga bisa meringankan tugas pak Gun,
kok,” lanjut Ibu sambil tersenyum. “Bagaimana caranya, Bu?” tanyaku
bersemangat. “Caranya mudah, yaitu tidak membuang sampah di sungai atau
selokan, membuang sampah di tempat sampah, memisahkan sampah basah yang mudah
membusuk dan sampah kering seperti plastik atau botol-botol kemasan. Dan…satu
lagi Najwa, jangan lupa selipkan satu kantong plastik di tasmu untuk
berjaga-jaga apabila kita tidak menemukan tempat sampah di perjalanan,” jawab
Ibu sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk tanda mengerti.
“Najwa…ayo berangkat, Ayah
sudah siap,” kata Ayah menyadarkanku. “Baik Ayah, Najwa juga siap,” sahutku
sambil menggendong tas sekolah. Ibu sudah berdiri di teras rumah. Ibu
membungkukkan badannya dan mencium keningku sambil berbisik, “Buat harimu berkesan
dan menyenangkan, ya”. Aku tersenyum, lalu kucium tangan Ibu. Ayah dan aku
menerobos dinginnya pagi.
0 comments:
Post a Comment