Sunday, May 10, 2020

PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN (bag. 4)

10 Mei 2020

..................

Sampai di sekolah, ibu guru sudah menunggu kami di pintu gerbang. Setelah bersalaman aku meletakkan tas di dalam kelas. Beberapa teman yang lebih dahulu datang menyapaku, akupun membalas sapaannya. Kami berkenalan satu sama lain. Wah…pagi ini aku mendapatkan tiga teman baru. Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Murid lainnya bergegas membuat barisan, aku dan teman-temanku mengikuti. Semua guru berbaris di depan kami, mereka memperkenalkan diri. Guru kelasku seorang perempuan, namanya bu Sita. Bu Sita tampak cantik dibalut kerudung yang serasi dengan seragamnya. Kami kemudian dipersilahkan memasuki kelas satu per satu. 

Aku dan teman-teman baruku menempati tempat duduk masing-masing. Tempat duduk kami disusun membentuk lingkaran. Jumlah kami tidak banyak, setelah kuhitung ada dua puluh anak. Aku mendapat tempat duduk di ujung, itu artinya tempat dudukku berdekatan dengan tempat duduk bu Sita. Suasana kelas baru agak sedikit menegangkan bagiku, padahal teman-teman baruku dan bu Sita sangat ramah. Atau aku terlalu senang karena tempat dudukku berdekatan dengan bu Sita. Ah entahlah, mungkin aku terlalu bersemangat menghadapi kelas baruku. 

Bu Sita menempati kursi kosong di sebelah kananku. Kami diminta untuk memperkenalkan diri satu per satu dengan cara menyebutkan nama panggilan kami masing-masing. Bu Sita mengajak kami bermain dan menyanyi, sesekali kami tertawa karena ada teman yang lupa menyebutkan kata yang baru saja diucapkan teman sebelahnya. Suasana kelas menjadi menyenangkan. Setelah melihat kami senang, bu Sita kemudian menyampaikan sesuatu. “Anak-anak, hari ini kita mengawali kegiatan pagi dengan menggambar. Ibu guru mengijinkan kalian menggambar apa saja sesuai keinginan dan jangan lupa diberi judul. Nanti  setelah gambar kalian selesai, Ibu mempersilahkan kalian menceritakan gambar yang sudah kalian buat kepada teman kalian secara bergiliran, dan waktu kalian satu jam,“ lanjut bu Sita. Aku dan teman-teman menyambut gembira tantangan bu Sita. Lalu kami mengambil kertas yang sudah disediakan. 

Suasana kelas menjadi sepi kembali. Semua sudah mulai menggambar tapi aku masih bingung akan menggambar apa. Dan tiba-tiba saja terlintas di benakku suatu peristiwa. Aha..seruku seraya memetikkan jari tanganku. Akupun mulai menggoreskan alat tulis dan larut dalam imajinasiku. Kulihat bu Sita tidak tinggal diam. Bu Sita berkeliling melihat gambar-gambar kami yang belum selesai. Sesekali berhenti dan menanyakan gambar apa yang sedang kami buat. Waktu terus berjalan, tak terasa waktu menggambar telah usai. Bu Sita mengingatkan kami dan meminta kami meletakkan semua alat tulis. “Nah, anak-anak saatnya kalian menceritakan hasil karya kalian. Ibu akan mulai dari teman kalian yang duduknya di sebelah kanan Ibu, kata bu Sita mempersilahkan. “Syukurlah…aku mendapat giliran terakhir, “ gumamku sambil mengurut dada. Satu per satu teman-teman menceritakan hasil karyanya. Hasil karya dan cerita teman-temanku bagus-bagus. Ada yang ceritanya sebentar, ada juga yang lama. Ada juga yang ceritanya diselingi bahasa jawa, bahkan ada yang ceritanya lucu dan membuat kami tertawa terbahak-bahak. 

Dan… saat ini giliranku tiba. Aku sedikit gugup, tapi aku berusaha mengumpulkan semua keberanianku. Terngiang di telingaku bisikan Ibu pagi tadi,” Jadikan harimu berkesan dan menyenangkan ya”. Aku tersenyum dan berdiri sambil memegang gambarku. Lalu aku mulai bercerita…

“Teman-teman, hari ini aku menggambar seorang tukang sampah dan gerobak sampahnya. Gambar ini kuberi judul Pahlawanku,” kataku. Semua terdiam, bu Sita juga tampak bingung lalu meminta ijin untuk bertanya. “Najwa, bukankah yang ada dalam gambar itu tukang sampah dan gerobaknya, lalu mengapa judulnya Pahlawanku, sayang?”. “Iya bu Sita, seorang tukang sampah yang aku gambar ini namanya pak Gun. Pekerjaan pak Gun bagi kita mungkin menjijikkan karena selalu bergelut dengan sampah-sampah yang bau, tetapi bagiku pekerjaan pak Gun sangat mulia. Pak Gun yang tidak pernah lelah membantu kami membersihkan sampah-sampah dari dapur, sampah di jalanan, sampah di selokan bahkan sampah-sampah yang dibuang orang di sungai sekitar rumah kami,” kataku. 

“Beberapa waktu lalu, pak Gun ditabrak orang saat sedang bekerja membersihkan sampah. Saat itu pak Gun sedang merapikan sampah di gerobak, merapikan sampah yang baru diambilnya dari sungai. Tetapi malang sekali, seorang pengendara sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Pak Gun harus istirahat beberapa waktu untuk memulihkan beberapa luka di tubuhnya. Syukurlah sekarang pak Gun sudah bisa bekerja kembali. Pak Gun orang yang rajin, tanggung jawab, jujur dan sederhana. Pak Gun tak kenal lelah, saat cuaca panas ataupun hujan, tetap menjalankan tugasnya. Kata ibuku, pak Gun dan petugas kebersihan lainnya, adalah orang-orang yang berjasa juga. Tanpa bantuan mereka, tentu kita akan kesulitan membuang sampah sampai di pembuangan sampah terakhir. Kami sangat menyayanginya dan bagiku pak Gun adalah Pahlawan,” kataku menutup cerita. Bu Sita dan teman-temanku bertepuk tangan. “Ceritamu bagus sekali ,” puji bu Sita. “Apakah ada pesan untuk teman-temanmu, Najwa?” lanjut bu Sita. 


0 comments:

Post a Comment

 

KB TK Puspa Melati Jember Template by Ipietoon Cute Blog Design